^ UUD Judi Sabung Ayam Dan Budaya Sabung Ayam Di Indonesia ^

August 24th, 2017

Budaya permainan sabung ayam di Indonesia sudah sejak jaman nenek moyang, maka tidak heran lagi jika sekarang di Indonesia terdapat permainan sabung ayam online di situs www.sabungonlineindonesia.com. Maka dengan kesempatan kali ini saya yang selaku admin judi sabung ayam online akan berbagi sedikit berita yang singkat tentang Budaya dan UUD perjudian di Indoneisa.

Tradisi Tabuh Rah (budaya sabung ayam) di Bali kini menjadi sati pelemik yang semakin sulit untuk dijelaskan. Sabung ayam di Bali memiliki dua makna yang sangat bertolak belakang pemaknanya, yakni sabung ayam yang berarti judi dan sabung ayam yang merupakan bagian dari pelaksanaan upacara agamar menurut agama hindu. Oleh sebab itu diperlukan adanya poin-poin khusus dalam menerapkan aturan tentang UU perjudian yang berhubungan dengan sabung ayam.

Seiring maraknya perjudian sabung ayam yang dilakukan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Bali, banyak yang berpikir dapat merubah pandangan masyarakat yang awalnya mengenal makna dari Tabuh Rah menjadi judi sabung ayam Tajen online. Adanya UU no.7 tahun 1974, dan UU KUHO Pasal 303 tentang perjudian di Indonesia, telah merubah dampak pengendalian sosial terhadap budaya tabuh rah yang bergeser artinya menjadi taruhan sabung ayam online. Bagaimanakah pemerintah menetapkan perkembangan budaya tabuh rah dalam penerapan UU no.7 tahun 1974 dan pengendalian sosial terhadap fenomena sabung ayam petarung di Bali ini.

Pengamat agen sabung ayam dalam hal ini menjelaskan bahwa sabung ayam bukan sekedar pertarungan antar ayam jago saja, tetapi didalamnya tersirat makna bahwasannya yang bertarung adalah manusia pemilik ayam jago tersebut, hal ini dikarenakan dalam kesehariannya mereka menghabiskan seluruh waktunya untuk merawat ayam jago kesayangannya yang akan ditarungkan. Biasanya mereka berjongkok dibangsal pertemuan atau disepanjang jalan dengan pinggul dibawah, bahu kedepan, seperti berlutut dan memegang seekor ayam jago, mengapit diantara kedua pahanya, naik turun dengan lembut untuk menguatkan kaki-kakinya, memnelai bulu-bulunya sebelum ditarungkan.

Sesuai pertarungan, pemenangnya akan membawa pulang sang jago untuk dimasak dan dimakan bersama. Bagi yang kalah dalam pertarungan ayam tersebut akan merasa sangat malu dan dimata masyarakat harga dirinya telah jatuh dan terinjak-injak. Hal utama yang dijelaskan disini bahwasannya dalam sabung ayam di Bali itninya buka terletak dari taruhan atau uang, melainkan tingkat sosial dan harga diri sang pemilik ayam aduan tersebut, karena ayam jantan yang dipakai dalam sabung ayam diibaratkan sebagai pengganti kepribadian sang pemilik ayam.

Pertarungan itu hanya akan berlangsung diantara orang-orang yang memiliki tingkat sosial yang sejajar dan dekat secara pribadi.

Penerapan Pasal 303 KUHP tentang perjudian di Bali masih sangat sulit, khususnya mengenai sabung ayam yang lebih dicenderungkan sebagai upacara keagamaan daripada sebagai perjudian. Adapun sabung ayam dikatakan sebagai perjudian apabila memenuhi unsur-unsur sebagai berikut ini :

* Sabung ayam yang dimaksud merupakan suatu permainan.
* Dalam permainan tersebut ada harapan untuk menang atau adu nasib yang bersifat untung-untungan.
* Tanpa adanya izin dari pihak yang berwenang.
* Adanya unsur-unsur taruhan. Dengan adanya unsur yang disebutkan tadi, diharapkan dapat dibedakan sabung ayam sebagai upacara keagamaan yang memiliki makna yang luhur di Bali dan sabung ayam sebagai ajang perjudian yang tidak di izinkan.

Demikinalha sedikit pernjelasan antara budaya Tabuh Rah dan UU perjudian di Indonesia.

Leave a Reply