Tradisi Unik Ritual Sabung Ayam Dan Kriteria Tajen Di Bali

August 7th, 2017

Mengenal tradisi unik ritual missal sabung ayam dan criteria tajen di Bali. Bali memang terkenal dengan tradisi sabung ayam. Yang akan menjadi topic sajian kali ini adalah ritual missal sabung ayam di Bali. Ritual missal ini berlangsung 1 bulan lebih, tepatnya 42 hari. Arena pertandingannya berada di area halaman Pura Hyang Api di Desa Pakraman kelusa, Gianyar Bali.

 

Seperti yang berhasil di rangkum dari informasi

 

sabungonlineindonesia.com di arena pertandingan beberapa waktu yang lalu. Konon, warga setempat percaya melaksanakan tradisi ritual missal ini, terkait dengan berkah keselamatan untuk ternak-ternak lain yang dipelihara oleh warga. Karena ritual missal sabung ayam petarung tersebut berlangsung dalam waktu yang cukup lama yakni 42 hari. Maka warga setempat biasanya melakukan tradisi tersebut selama 7 hari berturut-turut dumulai dari Hari Suci Kuningan. Menurut salah seorang tokoh adat setempat Gusti Suryawan, lepas 7 hari, ritual (Tajen) missal tersebut akan dilaksanakan setiap pasaran Kliwon atau 5 hari sekali, hingga genap 42 hari.

“Meski begitu, setiap hari pun ada saja warga yang membawa ayamnya untuk di adu. Hanya saja, jumlahnya tidak seramai saat Kliwon yang bisa mencapai ribuan orang silih berganti,” terang Suryawan.

Keramaian juga terlihat dari banyaknya warung-warung yang dibuka dadakan. Jadi situasinya hampir menyerupai pasar malam. Kembali pada tradisi missal sabung ayam, Suryawan menambahkan, harusnya tradisi itu di laksanakan murni tanpa taruhan. Namun belakangan ini, tidak tertutup kemungkinan taruhan itu ada saja yang melakukannya.

 

Kembali Gusti Suryawan menjelaskan, mengenai pelaksanaan tajen itu sendiri dapat dibagi menjadi 3 kriteria :

  • Tajen sebagai tradisi TABUH RAH, yang dalam pelaksanaanya diadakan setelah upacara ritual di Pura, tradisi ini dapat dilakukan dengan izin dari pihak kepolisian, namun jumlah ayam yang di adu diabtasi hanya 3 pasang.
  • Tajen yang mendapat izin dari pemerintah setempat dikenal dengan TAJEN TERANG. Pelaksanaannya secara tersembunyi, dilakukan sebagai saran penggalian dana pembangunan.
  • Tajen tanpa izin kepolisian. Pelaksanaannya secara tersembunyi, dilakukan oleh para penggemar sabung ayam, dikenal dengan istilah TAJEN BRANANGAN. Tajen ini merupakan tajen judi dengan berbagai macam taruhan.

 

“Karena ini merupakan tradisi, jika pelaksanaanya sesuai dengan kesadaran warga justru akan berpengaruh positif, karena tajen dapat menyeimbangi kepentingan duniawi dengan spiritual. Artinya, selain menjadi hiburan, tajen juga dapat menjadi sarana penggalangan dana,” terang Suryawan lagi.

Sebagai bentuk hiburan, terlihat sekali suasana semarak saat 2 atau 3 kalangan tanding sedang menjajal kehebatan ayam-ayam aduan mereka. Teriakan dan sorak sorai warga yang bersemangat, hingga salah satu ayam menggelepar tak berkutik. Bagi warga yag ayam aduannya kalah pun, tidak menunjukkan ekspresi kecewa. Terlihat sangat lumrah dan wajar saja. Jika ada yang bertaruh, biasanya bukan pemilik ayam, melainkan warga lain yang statusnya sebagai penonton dan berkelompok.

Leave a Reply